/page/2

Sampai Jumpa, Malamku.

mungkin kamu mau tau, ini sudah hampir kali kelima aku membaca tulisanmu yang terakhir kali kamu kirimkan itu. dan aku masih saja tidak tau harus membalas apa.

hallo, malamku.
matahari sudah mulai keliatan di tempatku sekarang. burung-burung dengan teratur beterbangan kembali ke tempatnya yang biasa, setelah hampir sepanjang malam diam dan hanya bercengkerama dengan kekasihnya sejak dari selepas senja, mereka berkicau dengan sangat indah. ah, kemarin aku lupa bilang kepadamu bahwa aku juga mencintai subuh. waktu yang paling tepat untuk mengingat dan melepaskan segala sesuatu, segar dan aromanya seperti mengingatkanku akan kamu.

kamu pernah dengar tentang sehabis gelap terbitlah terang, bukan? jika boleh ku artikan, malam dan subuh memang pasangan yang paling serasi. imajiku selalu berkhayal tentang keduanya. bagiku, subuh adalah bentuk kumpulan tertinggi kepuasaan dari orgasmeku akan nikmatnya malam. atau mungkin subuh adalah permulaan? entahlah. namun jika saja malam bisa kuanalogikan sebagai kesepianku yang tangguh, maka subuh menelan harga diri malamku yang teramat angkuh. dibabat habis, tak bersisa.

dan subuh ini, sepertinya bukan hanya itu saja. subuhku teramat lapar, bahkan cerita tentang kita pun ingin dilahapnya hingga tak berbekas. ah, sebentar. aku sedikit ragu, sebenarnya benakku bertanya selalu. apakah memang pernah ada kata kita dalam ini cerita?

hallo, malamku.
aku merasa dihormati betul ketika kau bilang merasakan juga komplikasi hebat yang sedang aku alami ini. sepertinya aku tak salah mendapatkanmu sebagai orang yang kuajak bertukar rasa, aku sangat ingin merangkul pundakmu, memeluk hangatnya badanmu dan berucap terima kasih yang banyak sekali sekarang ini, kau tau. ketika aku bilang kamu sangat menyenangkan dan lucu, aku tidak mengatakannya hanya untuk membuatmu senang semata. kamu benar-benar menyenangkan juga lucu, gelitik mesra di perut dan telapak kakiku begitu terasanya nyata setiap kamu mulai berceloteh dengan sederhana. bahkan ketika pada akhirnya kamu meminta maaf untuk pergi dengan rupa yang pantas, aku masih menganggap caramu berpamitan itu teramat menyenangkan dan lucu adanya.

entahlah, malamku..
mungkin kita cuma sedang sekedar khilaf, kamu tidak perlu meminta maaf. sepertinya akan sangat menyenangkan jika suatu saat nanti kamu mau kenalkan aku kepada pahlawan pelangimu yang lain, yang aku yakin akan kau temukan pada suatu hari di dalam perjalananmu mencari jembatan penyebranganmenuju khayangan nanti.

sampai di sini, malamku.
berkali lagi aku ucapkan terima kasih dan maaf yang banyak sekali, dengan tak sadar hampir saja aku mengacaukan banyak hal yang sudah lebih dulu ada.

hmm..
pagiku sudah terang sekarang, sayang.
mungkin sudah saatnya aku melepaskan malamku dengan ikhlas, beristirahat sejenak dalam subuh, dan dengan hati berani menantang matahari yang tak pernah kapok menggodaku hari ini.

seperti biasa, sepertinya aku terlalu banyak berkata-kata lagi. maklumkan sajalah, besok-besok sudah tak ada cerita manis begini lagi di antara kita, bukan? hehehe.

sampai jumpa, malamku.
semoga akan ada lain kesempatan.

Hati Nurani Hakim Dalam Memutus Suatu Perkara Pidana.

“Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang, kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya ada dua alat bukti yang sah, yang daripadanya dia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana telah terjadi dan bahwa Terdakwalah yang bersalah melakukannya.”
-Pasal 183 KUHAP.

—-
Pasal inilah yang sering dijadikan pedoman bagi para Hakim di Indonesia dalam mengambil keputusan mengenai bersalah tidaknya seseorang yang terjerat dengan kasus pidana. Berdasarkan pasal ini, sudah jelas sekali dikatakan bahwa untuk memutuskan bersalah atau tidaknya seseorang ada dua faktor penentu, yakni: harus ada SEKURANG-KURANGNYA DUA ALAT BUKTI YANG SAH, serta adanya KEYAKINAN HAKIM.

Mengenai alat bukti yang sah, telah diatur dengan jelas dalam Pasal 183 ayat (1) KUHAP bahwa yang termasuk di dalamnya adalah:
1. Keterangan Saksi;
2. Keterangan Ahli;
3. Surat;
4. Petunjuk;
5. Keterangan Terdakwa.

Selain daripada itu, karena sistem pembuktian Hukum Acara Pidana Indonesia menganut stelsel Negatief Wettelijk, maka tidak dapat dipergunakan dalam pembuktian di dalam persidangan. Yang lainnya ini yang kemudian disebut dengan barang bukti, yakni barang atau benda atau sesuatu yang dipergunakan dalam atau berkaitan atau terlibat atau ada hubungannya dengan kasus yang sedang diperiksa di persidangan.

Selanjutnya, yang kedua, disebut dengan Keyakinan Hakim. Kalau sebelumnya mempergunakan kepastian dalam pembuktian, dengan adanya alat bukti yang jelas yang dipergunakan, maka mengenai Keyakinan Hakim ini tentu murni berdasarkan hati nurani dari Hakim itu sendiri. Keyakinan Hakim ini tidak boleh diperoleh dari macam-macam keadaan yang diketahuinya DI LUAR PERSIDANGAN, tetapi haruslah dari pemeriksaan terhadap alat bukti yang terjadi DI DALAM PERSIDANGAN.

Jadi misalnya nih, kasus N merupakan kasus penting yang melibatkan banyak pejabat negara, sehingga media berlomba-lomba memberitakan hal-hal yang bahkan mungkin sudah mengandung fitnah. Seorang Hakim boleh saja menonton berita-berita tentang kasus yang sedang digembor-gemborkan tersebut, tetapi TIDAK BOLEH MENJADIKAN keterangan tersebut sebagai dasar dari keyakinannya untuk memutus perkara. Dia tetap harus menggunakan keyakinan yang diperolehnya dari pemeriksaan di persidangan. Bahasa gampangnya, mau di luar persidangan dengan bukti yang dibeberkan sana sini oleh berbagai fihak bahwa si N ini terbukti bersalah kek, tapi kalo dalam pemeriksaan pembuktian di persidangan si Jaksa Penuntut Umumnya tidak mampu memberikan keyakinan kepada Hakim bahwa N ini bersalah, maka Hakim haruslah mempergunakan keyakinan itu untuk memutus perkaranya.

Apabila dari pemeriksaan alat-alat bukti tersebut si Hakim masih tidak memperoleh keyakinan, maka ia berwenang untuk menjatuhkan putusan bebas dari segala tuntutan.

Jadi, walopun ada dua atau lima atau bahkan tiga puluh orang saksi dan belasan alat bukti lainnya sekalipun, tetapi dengan hati nuraninya Hakim tidak yakin bahwa kesaksian tersebut dapat dipercaya untuk mencari kebenaran materiil, maka Hakim tersebut mempunyai kewenangan untuk membebaskan Terdakwa.

Sebaliknya, jika kesaksian dan alat bukti telah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Terdakwa bersalah, dan apabila hati nurani Hakim juga berkata bahwa Terdakwa bersalah, walopun mungkin akan bertentangan dengan keinginan masyarakat banyak, Hakim tetap harus memutuskan dengan legowo bahwa Terdakwa bersalah.

Intinya sih, jadi Hakim itu harus logis dan objektif dalam segala hal demi mencari kebenaran materiil suatu kasus pidana. Susah loh, untuk tidak terpancing dengan segala berita dan intervensi yang bertebaran disana-sini. Jadi, sekarang udah mulai ngerti kan, bahwa seenaknya nge-judge seorang Hakim dalam pengambilan keputusannya itu nggak pernah baik? :p

Syahdan, suatu malam di kerajaan cerita punya kita..

  • L: Kamu mau aku ingetin caranya bobok nggak?
  • P: Mau. Gimana?
  • L: kamu inget-ingetin dulu badanku sebesar apa. Inget terus sampe kamu bener-bener inget. Udah?
  • P: Hhmm..
  • L: Nah.. Kalo udah, bayangin deh kamu lagi tiduran. Trus pelan-pelan aku deketin kamu.. Aku pelukin kamu dari belakang.. Sambil aku bisikin ke telinga kamu cerita seharian aku ngapain aja..
teruslah mendoakan, meski sekalipun kau belum bisa merelakan.
– Yuristika Tirta.

Perkara Rindu.

perkara rindu. gelisah ini terasa sampai di kuku. tentangmu yang sedang jauh, yang kepadamu hatiku berlabuh. demi Tuhanku yang tak pernah kaku, ingin sekali bibirku merapat mendekat dan membabat semua lekuk tubuhmu, habis kau ku cumbu!

bersabarlah, sayangku. rindu ini bukan sekedar rindu. sebentar lagi kita akan bertemu, berpelukan menyeluruh. tak usah kau risau, sayangku. aku yakin semesta pun tau, kita itu seharusnya satu. ini cuma perkara rindu, rindu yang tak bisa hilang meski sekarang kita tersedu-sedu.

ah sial, aku rindu!

kepadamu, kamu.

kepadamu, kamu.

Sepi di luar.

Sepi menekan mendesak. Lurus kaku pohonan.

Tak bergerak.

Sampai ke puncak.

eh, ini prolognya kayak pernah kamu baca nggak sih? hehehe. katakan kamu penyuka sastra, pasti tau itu kata-kata pembuka sajak chairil anwar yang judulnya hampa. garing ya? hehehe. namanya juga basa-basi. aku sedang kehabisan kata-kata, tak tau mau bilang apa. kata orang-orang sih mungkin aku hanya salah tingkah. serupa persis ketika aku menerima tulisan yang kau kirimkan tadi malam.

Kepadamu, kamu yang tidak perlu lagi kusebutkan siapa, kamu pasti tau bahwa saat ini aku sedang membicarakanmu.

Di tempatku saat ini birunya langit mulai sayup, burung-burung sedang berbaris pulang, beriringan. Sebentar lagi siluet pekat bernama gelap akan berkuasa dalam sekejap. sebagian orang menyebutnya malam, sedang aku memanggilnya teman. ah, aku selalu suka malam. dia beraroma sendu, angkuh. malam bertahan sepi sendiri ketika hampir semua mahluk sedang bersiap menantang matahari, malam itu misteri.

malam itu teman. seringkali malam dikelabui, namun dia memilih hanya diam tak bersuara, membiarkan angin dan dingin yang membalaskan semua deritanya.

malam itu indah.

bukan berarti aku membenci hangatnya matahari pagi atau sengatan senja hari yang menusuk sampai ke hati, hanya saja menurutku malam lebih banyak berjasa. karenanya dua kekasih akhirnya bisa saling berpelukan di atas kasur sebelum tidur, karenanya seorang ayah yang waktunya selalu habis diminta oleh siang kemudian bisa mencium kening anaknya, karenanya para penjajah selangkangan bisa memberikan orangtuanya sedikit uang untuk makan. entah sudah berapa banyak sarjana yang dihasilkan oleh kesederhanaan malam, entah sudah berapa keperawanan yang habis direnggut oleh malam yang jahanam. entah berapa cerita yang dimulai karena malam, entah bagaimana malam mempertemukanku denganmu.

kepadamu, kamu.

malam itu menarik, bukan? pada akhirnya dialah yang mempertemukanku denganmu pada suatu ketika. “kamu, yang mengalirkan merahku dengan jalur lebih lebar. memberi rona pada wajahku yang tadinya hanya memiliki satu warna.” ujarmu. aku tersenyum, ku jamin kamu tak tau bahwa warna di pipiku jauh lebih memerah daripada biasanya. tanganku dingin, ketukan nada di hatiku berdentang jauh lebih cepat daripada biasanya. kita saling bertukar cerita tentang rasa, sementara aku tertawa malu-malu membayangkan sedang apa dirimu disana. aku menikmatinya, sampai kemudian sinar mentari mulai menembus tirai dan menyadarkanku bahwa ini salah. aku menikmatinya, meskipun aku tau tau betul ini tak seharusnya. aku menikmatinya, padahal aku tau nanti pasti akan ada hati-hati yang terluka bila sampai pada waktunya. benarkah?

kepadamu, hanya kepada kamu.

kini malam membimbingku untuk mulai merindukanmu. jika saja menurutmu malam-malamku itu terlalu berlebihan untuk kita, mungkin saja kau bisa bantu menjelaskan kepadaku ini apa namanya.

aku hanya tak tau harus bagaimana.

kamu adalah rumah, tempatku pulang ketika tak bisa lagi berpura-pura, bahwa lelahku tak jua melanda. di hatimu aku titipkan cinta, sebagai kunci utama untuk menetap selamanya disana. mohon agar kau bisa jaga.
– Yuristika Tirta.
dengan segenap hati dan wajah menunduk malu kuhaturkan maaf yang banyak sekali. semoga yang tersakiti dan kecewa karenaku masih sudi membalas senyumku lagi.
– Yuristika Tirta.
aku bosan kehilangan!
– Iprith Deviant.
inginku hanya tak ada sesiapa yang terluka. terlalu banyakkah?
– Yuristika Tirta.
jangan suruh aku memilih di antara keduanya, bukanlah bahagia jika harus merusak yang sudah lebih dulu ada. lebih baik aku mengalah dan pelan-pelan pergi saja.
– Yuristika Tirta.
and i know your favorite songs and you tell me about your dreams. think i know where you belong, think i know it’s with me..
– Taylor Swift.
torn between two lovers feeling like a fool, loving both of you is breaking all the rules.
– Mary MacGregor.
jadi begini saja, hati.
– tolong segera kembali menggebu, aku tak ingin kau habis dan berdebu.

jadi, begini peraturan sederhana para dewa mengenai kita berdua pada suatu ketika.

jadi, begini peraturannya. di pojok sana kamu sedang bertingkah lucu saat aku memandangmu malu-malu, lalu menunduk tersipu tepat setelah mata kita terpaut lugu. kau mendekat, aku menyambut aromamu dengan sedikit giat. diam-diam kita akan tersenyum sebelum jari-jari kita beradu. di saat itu, suatu ketika ribuan pasang mata memilih untuk berkata cinta serta jutaan tangan lainnya sedang saling terikat dengan erat, hati kita akan bertemu.

jadi, begini peraturannya. lupakan soal surat cinta karna aku yakin tak sedetik pun kau sempat ada waktu untuk mengarangnya, meski sekelabat aku ingin percaya waktu kamu bilang kamu punya. dadaku akan berdebar kencang, berfikir ribuan kali sebelum akhirnya melihat tanda centang. bisa saja aku bercerita panjang lebar, namun aku tau kamu akan terlalu semangat membacanya bahkan hanya dengan, “hai, apa kabar?” yang terpampang di layar. di saat itu, suatu ketika ribuan pasang mata memilih untuk berkata cinta serta jutaan tangan lainnya sedang saling terikat dengan erat, hati kita sedang bertemu.

jadi, begini peraturannya. pada suatu petang aku sedang bercengkerama ringan dengan banyak riasan, lalu kamu datang dan menyapa bapak yang sedang duduk membaca koran di ruang depan. kau membiusnya dengan cerita tentang ikan sehingga kamu akan dibiarkan membawaku pergi ditengah rintik hujan. kita berusaha mencairkan kaku dengan sangat kepayahan, lalu nantinya menyerah dan tertawa pelan. di saat itu, suatu ketika dua pasang mata memilih untuk berkata cinta serta akhirnya tangan kita saling terikat dengan erat, hati kita telah bertemu.

jadi, begini peraturannya. aku ingin kita berdua bukan serupa garis silang, bersinggungan sebentar lalu saling hilang. maka akan kubiarkan kamu meminangku dengan caramu saja, tentu saja harus ada cincin bunga serta sedikit kata cinta juga beberapa janji surga. kemudian kita akan bersumpah saling setia selamanya, namun kamu harus siap mendapati aku yang akan mendengus kesal kepada rekan perempuanmu yang sedikit nakal. aku juga akan berusaha untuk tidak berdebat saat kamu bilang harus dengan restumu kalau aku mau berbuat, karena aku terlalu takut untuk dimusuhi para malaikat. di saat itu, suatu ketika entah bagaimana, hati kita akan selalu bertemu.

“aku ingin mengelilingi dunia!” katamu.

“maka dengan senang hati aku akan menyambutmu dengan pelukan saat kau pulang, sayang.” kataku.

“aku ingin punya banyak anak!” kataku.

“maka mereka pasti akan sangat mencintaimu dengan layak.” katamu.

jadi, begini peraturannya.

suatu ketika kita akan bergantian terjaga, menunggu panggilan indah dari beberapa manusia kecil keturunanmu dalam kotak cantik bertudung biru disebelah tempat tidur kita.

suatu ketika kita akan tak saling bicara karena hasil kerjamu tak cukup untuk biaya mereka sekolah.

suatu ketika kita akan berbaikan kembali setelah kau mengecup keningku dengan mesra.

suatu ketika kita akan bertatap sendu karena dengan berani salah satu dari mereka berucap, “ah!”.

suatu ketika kita akan berpelukan dengan bangga di kursi penonton stadion kampus karena di atas podium telah berdiri mereka yang lulus kuliah dengan peringkat pertama.

suatu ketika kita akan sedikit tersedu berupa haru karena selain memberikan gaji pertama dengan sukarela, tak lupa pula mereka meminta izinmu untuk menikah.

suatu ketika kita akan berangkulan dalam senyap, demi balas budi kepada semesta yang telah bekerjasama mempertemukan kita dengan cara mereka yang luarbiasa tak terduga. kemudian salah satu dari kita akan terdiam selamanya dalam kaku, lainnya hanya bisa menangis dan menunggu waktu.

jadi agar supaya kita bisa segera mulai mengingat beberapa dari peraturan sederhana para dewa, sudikah kau jika kupinta untuk bergerak mendekat sedikit saja?

Sampai Jumpa, Malamku.

mungkin kamu mau tau, ini sudah hampir kali kelima aku membaca tulisanmu yang terakhir kali kamu kirimkan itu. dan aku masih saja tidak tau harus membalas apa.

hallo, malamku.
matahari sudah mulai keliatan di tempatku sekarang. burung-burung dengan teratur beterbangan kembali ke tempatnya yang biasa, setelah hampir sepanjang malam diam dan hanya bercengkerama dengan kekasihnya sejak dari selepas senja, mereka berkicau dengan sangat indah. ah, kemarin aku lupa bilang kepadamu bahwa aku juga mencintai subuh. waktu yang paling tepat untuk mengingat dan melepaskan segala sesuatu, segar dan aromanya seperti mengingatkanku akan kamu.

kamu pernah dengar tentang sehabis gelap terbitlah terang, bukan? jika boleh ku artikan, malam dan subuh memang pasangan yang paling serasi. imajiku selalu berkhayal tentang keduanya. bagiku, subuh adalah bentuk kumpulan tertinggi kepuasaan dari orgasmeku akan nikmatnya malam. atau mungkin subuh adalah permulaan? entahlah. namun jika saja malam bisa kuanalogikan sebagai kesepianku yang tangguh, maka subuh menelan harga diri malamku yang teramat angkuh. dibabat habis, tak bersisa.

dan subuh ini, sepertinya bukan hanya itu saja. subuhku teramat lapar, bahkan cerita tentang kita pun ingin dilahapnya hingga tak berbekas. ah, sebentar. aku sedikit ragu, sebenarnya benakku bertanya selalu. apakah memang pernah ada kata kita dalam ini cerita?

hallo, malamku.
aku merasa dihormati betul ketika kau bilang merasakan juga komplikasi hebat yang sedang aku alami ini. sepertinya aku tak salah mendapatkanmu sebagai orang yang kuajak bertukar rasa, aku sangat ingin merangkul pundakmu, memeluk hangatnya badanmu dan berucap terima kasih yang banyak sekali sekarang ini, kau tau. ketika aku bilang kamu sangat menyenangkan dan lucu, aku tidak mengatakannya hanya untuk membuatmu senang semata. kamu benar-benar menyenangkan juga lucu, gelitik mesra di perut dan telapak kakiku begitu terasanya nyata setiap kamu mulai berceloteh dengan sederhana. bahkan ketika pada akhirnya kamu meminta maaf untuk pergi dengan rupa yang pantas, aku masih menganggap caramu berpamitan itu teramat menyenangkan dan lucu adanya.

entahlah, malamku..
mungkin kita cuma sedang sekedar khilaf, kamu tidak perlu meminta maaf. sepertinya akan sangat menyenangkan jika suatu saat nanti kamu mau kenalkan aku kepada pahlawan pelangimu yang lain, yang aku yakin akan kau temukan pada suatu hari di dalam perjalananmu mencari jembatan penyebranganmenuju khayangan nanti.

sampai di sini, malamku.
berkali lagi aku ucapkan terima kasih dan maaf yang banyak sekali, dengan tak sadar hampir saja aku mengacaukan banyak hal yang sudah lebih dulu ada.

hmm..
pagiku sudah terang sekarang, sayang.
mungkin sudah saatnya aku melepaskan malamku dengan ikhlas, beristirahat sejenak dalam subuh, dan dengan hati berani menantang matahari yang tak pernah kapok menggodaku hari ini.

seperti biasa, sepertinya aku terlalu banyak berkata-kata lagi. maklumkan sajalah, besok-besok sudah tak ada cerita manis begini lagi di antara kita, bukan? hehehe.

sampai jumpa, malamku.
semoga akan ada lain kesempatan.

Hati Nurani Hakim Dalam Memutus Suatu Perkara Pidana.

“Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang, kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya ada dua alat bukti yang sah, yang daripadanya dia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana telah terjadi dan bahwa Terdakwalah yang bersalah melakukannya.”
-Pasal 183 KUHAP.

—-
Pasal inilah yang sering dijadikan pedoman bagi para Hakim di Indonesia dalam mengambil keputusan mengenai bersalah tidaknya seseorang yang terjerat dengan kasus pidana. Berdasarkan pasal ini, sudah jelas sekali dikatakan bahwa untuk memutuskan bersalah atau tidaknya seseorang ada dua faktor penentu, yakni: harus ada SEKURANG-KURANGNYA DUA ALAT BUKTI YANG SAH, serta adanya KEYAKINAN HAKIM.

Mengenai alat bukti yang sah, telah diatur dengan jelas dalam Pasal 183 ayat (1) KUHAP bahwa yang termasuk di dalamnya adalah:
1. Keterangan Saksi;
2. Keterangan Ahli;
3. Surat;
4. Petunjuk;
5. Keterangan Terdakwa.

Selain daripada itu, karena sistem pembuktian Hukum Acara Pidana Indonesia menganut stelsel Negatief Wettelijk, maka tidak dapat dipergunakan dalam pembuktian di dalam persidangan. Yang lainnya ini yang kemudian disebut dengan barang bukti, yakni barang atau benda atau sesuatu yang dipergunakan dalam atau berkaitan atau terlibat atau ada hubungannya dengan kasus yang sedang diperiksa di persidangan.

Selanjutnya, yang kedua, disebut dengan Keyakinan Hakim. Kalau sebelumnya mempergunakan kepastian dalam pembuktian, dengan adanya alat bukti yang jelas yang dipergunakan, maka mengenai Keyakinan Hakim ini tentu murni berdasarkan hati nurani dari Hakim itu sendiri. Keyakinan Hakim ini tidak boleh diperoleh dari macam-macam keadaan yang diketahuinya DI LUAR PERSIDANGAN, tetapi haruslah dari pemeriksaan terhadap alat bukti yang terjadi DI DALAM PERSIDANGAN.

Jadi misalnya nih, kasus N merupakan kasus penting yang melibatkan banyak pejabat negara, sehingga media berlomba-lomba memberitakan hal-hal yang bahkan mungkin sudah mengandung fitnah. Seorang Hakim boleh saja menonton berita-berita tentang kasus yang sedang digembor-gemborkan tersebut, tetapi TIDAK BOLEH MENJADIKAN keterangan tersebut sebagai dasar dari keyakinannya untuk memutus perkara. Dia tetap harus menggunakan keyakinan yang diperolehnya dari pemeriksaan di persidangan. Bahasa gampangnya, mau di luar persidangan dengan bukti yang dibeberkan sana sini oleh berbagai fihak bahwa si N ini terbukti bersalah kek, tapi kalo dalam pemeriksaan pembuktian di persidangan si Jaksa Penuntut Umumnya tidak mampu memberikan keyakinan kepada Hakim bahwa N ini bersalah, maka Hakim haruslah mempergunakan keyakinan itu untuk memutus perkaranya.

Apabila dari pemeriksaan alat-alat bukti tersebut si Hakim masih tidak memperoleh keyakinan, maka ia berwenang untuk menjatuhkan putusan bebas dari segala tuntutan.

Jadi, walopun ada dua atau lima atau bahkan tiga puluh orang saksi dan belasan alat bukti lainnya sekalipun, tetapi dengan hati nuraninya Hakim tidak yakin bahwa kesaksian tersebut dapat dipercaya untuk mencari kebenaran materiil, maka Hakim tersebut mempunyai kewenangan untuk membebaskan Terdakwa.

Sebaliknya, jika kesaksian dan alat bukti telah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Terdakwa bersalah, dan apabila hati nurani Hakim juga berkata bahwa Terdakwa bersalah, walopun mungkin akan bertentangan dengan keinginan masyarakat banyak, Hakim tetap harus memutuskan dengan legowo bahwa Terdakwa bersalah.

Intinya sih, jadi Hakim itu harus logis dan objektif dalam segala hal demi mencari kebenaran materiil suatu kasus pidana. Susah loh, untuk tidak terpancing dengan segala berita dan intervensi yang bertebaran disana-sini. Jadi, sekarang udah mulai ngerti kan, bahwa seenaknya nge-judge seorang Hakim dalam pengambilan keputusannya itu nggak pernah baik? :p

Syahdan, suatu malam di kerajaan cerita punya kita..

  • L: Kamu mau aku ingetin caranya bobok nggak?
  • P: Mau. Gimana?
  • L: kamu inget-ingetin dulu badanku sebesar apa. Inget terus sampe kamu bener-bener inget. Udah?
  • P: Hhmm..
  • L: Nah.. Kalo udah, bayangin deh kamu lagi tiduran. Trus pelan-pelan aku deketin kamu.. Aku pelukin kamu dari belakang.. Sambil aku bisikin ke telinga kamu cerita seharian aku ngapain aja..
teruslah mendoakan, meski sekalipun kau belum bisa merelakan.
– Yuristika Tirta.

Perkara Rindu.

perkara rindu. gelisah ini terasa sampai di kuku. tentangmu yang sedang jauh, yang kepadamu hatiku berlabuh. demi Tuhanku yang tak pernah kaku, ingin sekali bibirku merapat mendekat dan membabat semua lekuk tubuhmu, habis kau ku cumbu!

bersabarlah, sayangku. rindu ini bukan sekedar rindu. sebentar lagi kita akan bertemu, berpelukan menyeluruh. tak usah kau risau, sayangku. aku yakin semesta pun tau, kita itu seharusnya satu. ini cuma perkara rindu, rindu yang tak bisa hilang meski sekarang kita tersedu-sedu.

ah sial, aku rindu!

kepadamu, kamu.

kepadamu, kamu.

Sepi di luar.

Sepi menekan mendesak. Lurus kaku pohonan.

Tak bergerak.

Sampai ke puncak.

eh, ini prolognya kayak pernah kamu baca nggak sih? hehehe. katakan kamu penyuka sastra, pasti tau itu kata-kata pembuka sajak chairil anwar yang judulnya hampa. garing ya? hehehe. namanya juga basa-basi. aku sedang kehabisan kata-kata, tak tau mau bilang apa. kata orang-orang sih mungkin aku hanya salah tingkah. serupa persis ketika aku menerima tulisan yang kau kirimkan tadi malam.

Kepadamu, kamu yang tidak perlu lagi kusebutkan siapa, kamu pasti tau bahwa saat ini aku sedang membicarakanmu.

Di tempatku saat ini birunya langit mulai sayup, burung-burung sedang berbaris pulang, beriringan. Sebentar lagi siluet pekat bernama gelap akan berkuasa dalam sekejap. sebagian orang menyebutnya malam, sedang aku memanggilnya teman. ah, aku selalu suka malam. dia beraroma sendu, angkuh. malam bertahan sepi sendiri ketika hampir semua mahluk sedang bersiap menantang matahari, malam itu misteri.

malam itu teman. seringkali malam dikelabui, namun dia memilih hanya diam tak bersuara, membiarkan angin dan dingin yang membalaskan semua deritanya.

malam itu indah.

bukan berarti aku membenci hangatnya matahari pagi atau sengatan senja hari yang menusuk sampai ke hati, hanya saja menurutku malam lebih banyak berjasa. karenanya dua kekasih akhirnya bisa saling berpelukan di atas kasur sebelum tidur, karenanya seorang ayah yang waktunya selalu habis diminta oleh siang kemudian bisa mencium kening anaknya, karenanya para penjajah selangkangan bisa memberikan orangtuanya sedikit uang untuk makan. entah sudah berapa banyak sarjana yang dihasilkan oleh kesederhanaan malam, entah sudah berapa keperawanan yang habis direnggut oleh malam yang jahanam. entah berapa cerita yang dimulai karena malam, entah bagaimana malam mempertemukanku denganmu.

kepadamu, kamu.

malam itu menarik, bukan? pada akhirnya dialah yang mempertemukanku denganmu pada suatu ketika. “kamu, yang mengalirkan merahku dengan jalur lebih lebar. memberi rona pada wajahku yang tadinya hanya memiliki satu warna.” ujarmu. aku tersenyum, ku jamin kamu tak tau bahwa warna di pipiku jauh lebih memerah daripada biasanya. tanganku dingin, ketukan nada di hatiku berdentang jauh lebih cepat daripada biasanya. kita saling bertukar cerita tentang rasa, sementara aku tertawa malu-malu membayangkan sedang apa dirimu disana. aku menikmatinya, sampai kemudian sinar mentari mulai menembus tirai dan menyadarkanku bahwa ini salah. aku menikmatinya, meskipun aku tau tau betul ini tak seharusnya. aku menikmatinya, padahal aku tau nanti pasti akan ada hati-hati yang terluka bila sampai pada waktunya. benarkah?

kepadamu, hanya kepada kamu.

kini malam membimbingku untuk mulai merindukanmu. jika saja menurutmu malam-malamku itu terlalu berlebihan untuk kita, mungkin saja kau bisa bantu menjelaskan kepadaku ini apa namanya.

aku hanya tak tau harus bagaimana.

kamu adalah rumah, tempatku pulang ketika tak bisa lagi berpura-pura, bahwa lelahku tak jua melanda. di hatimu aku titipkan cinta, sebagai kunci utama untuk menetap selamanya disana. mohon agar kau bisa jaga.
– Yuristika Tirta.
dengan segenap hati dan wajah menunduk malu kuhaturkan maaf yang banyak sekali. semoga yang tersakiti dan kecewa karenaku masih sudi membalas senyumku lagi.
– Yuristika Tirta.
aku bosan kehilangan!
– Iprith Deviant.
inginku hanya tak ada sesiapa yang terluka. terlalu banyakkah?
– Yuristika Tirta.
jangan suruh aku memilih di antara keduanya, bukanlah bahagia jika harus merusak yang sudah lebih dulu ada. lebih baik aku mengalah dan pelan-pelan pergi saja.
– Yuristika Tirta.
and i know your favorite songs and you tell me about your dreams. think i know where you belong, think i know it’s with me..
– Taylor Swift.
torn between two lovers feeling like a fool, loving both of you is breaking all the rules.
– Mary MacGregor.
jadi begini saja, hati.
– tolong segera kembali menggebu, aku tak ingin kau habis dan berdebu.

jadi, begini peraturan sederhana para dewa mengenai kita berdua pada suatu ketika.

jadi, begini peraturannya. di pojok sana kamu sedang bertingkah lucu saat aku memandangmu malu-malu, lalu menunduk tersipu tepat setelah mata kita terpaut lugu. kau mendekat, aku menyambut aromamu dengan sedikit giat. diam-diam kita akan tersenyum sebelum jari-jari kita beradu. di saat itu, suatu ketika ribuan pasang mata memilih untuk berkata cinta serta jutaan tangan lainnya sedang saling terikat dengan erat, hati kita akan bertemu.

jadi, begini peraturannya. lupakan soal surat cinta karna aku yakin tak sedetik pun kau sempat ada waktu untuk mengarangnya, meski sekelabat aku ingin percaya waktu kamu bilang kamu punya. dadaku akan berdebar kencang, berfikir ribuan kali sebelum akhirnya melihat tanda centang. bisa saja aku bercerita panjang lebar, namun aku tau kamu akan terlalu semangat membacanya bahkan hanya dengan, “hai, apa kabar?” yang terpampang di layar. di saat itu, suatu ketika ribuan pasang mata memilih untuk berkata cinta serta jutaan tangan lainnya sedang saling terikat dengan erat, hati kita sedang bertemu.

jadi, begini peraturannya. pada suatu petang aku sedang bercengkerama ringan dengan banyak riasan, lalu kamu datang dan menyapa bapak yang sedang duduk membaca koran di ruang depan. kau membiusnya dengan cerita tentang ikan sehingga kamu akan dibiarkan membawaku pergi ditengah rintik hujan. kita berusaha mencairkan kaku dengan sangat kepayahan, lalu nantinya menyerah dan tertawa pelan. di saat itu, suatu ketika dua pasang mata memilih untuk berkata cinta serta akhirnya tangan kita saling terikat dengan erat, hati kita telah bertemu.

jadi, begini peraturannya. aku ingin kita berdua bukan serupa garis silang, bersinggungan sebentar lalu saling hilang. maka akan kubiarkan kamu meminangku dengan caramu saja, tentu saja harus ada cincin bunga serta sedikit kata cinta juga beberapa janji surga. kemudian kita akan bersumpah saling setia selamanya, namun kamu harus siap mendapati aku yang akan mendengus kesal kepada rekan perempuanmu yang sedikit nakal. aku juga akan berusaha untuk tidak berdebat saat kamu bilang harus dengan restumu kalau aku mau berbuat, karena aku terlalu takut untuk dimusuhi para malaikat. di saat itu, suatu ketika entah bagaimana, hati kita akan selalu bertemu.

“aku ingin mengelilingi dunia!” katamu.

“maka dengan senang hati aku akan menyambutmu dengan pelukan saat kau pulang, sayang.” kataku.

“aku ingin punya banyak anak!” kataku.

“maka mereka pasti akan sangat mencintaimu dengan layak.” katamu.

jadi, begini peraturannya.

suatu ketika kita akan bergantian terjaga, menunggu panggilan indah dari beberapa manusia kecil keturunanmu dalam kotak cantik bertudung biru disebelah tempat tidur kita.

suatu ketika kita akan tak saling bicara karena hasil kerjamu tak cukup untuk biaya mereka sekolah.

suatu ketika kita akan berbaikan kembali setelah kau mengecup keningku dengan mesra.

suatu ketika kita akan bertatap sendu karena dengan berani salah satu dari mereka berucap, “ah!”.

suatu ketika kita akan berpelukan dengan bangga di kursi penonton stadion kampus karena di atas podium telah berdiri mereka yang lulus kuliah dengan peringkat pertama.

suatu ketika kita akan sedikit tersedu berupa haru karena selain memberikan gaji pertama dengan sukarela, tak lupa pula mereka meminta izinmu untuk menikah.

suatu ketika kita akan berangkulan dalam senyap, demi balas budi kepada semesta yang telah bekerjasama mempertemukan kita dengan cara mereka yang luarbiasa tak terduga. kemudian salah satu dari kita akan terdiam selamanya dalam kaku, lainnya hanya bisa menangis dan menunggu waktu.

jadi agar supaya kita bisa segera mulai mengingat beberapa dari peraturan sederhana para dewa, sudikah kau jika kupinta untuk bergerak mendekat sedikit saja?

Sampai Jumpa, Malamku.
Hati Nurani Hakim Dalam Memutus Suatu Perkara Pidana.
Syahdan, suatu malam di kerajaan cerita punya kita..
"teruslah mendoakan, meski sekalipun kau belum bisa merelakan."
Perkara Rindu.
kepadamu, kamu.
"kamu adalah rumah, tempatku pulang ketika tak bisa lagi berpura-pura, bahwa lelahku tak jua melanda. di hatimu aku titipkan cinta, sebagai kunci utama untuk menetap selamanya disana. mohon agar kau bisa jaga."
"dengan segenap hati dan wajah menunduk malu kuhaturkan maaf yang banyak sekali. semoga yang tersakiti dan kecewa karenaku masih sudi membalas senyumku lagi."
"aku bosan kehilangan!"
"inginku hanya tak ada sesiapa yang terluka. terlalu banyakkah?"
"jangan suruh aku memilih di antara keduanya, bukanlah bahagia jika harus merusak yang sudah lebih dulu ada. lebih baik aku mengalah dan pelan-pelan pergi saja."
"and i know your favorite songs and you tell me about your dreams. think i know where you belong, think i know it’s with me.."
"torn between two lovers feeling like a fool, loving both of you is breaking all the rules."
"jadi begini saja, hati."
jadi, begini peraturan sederhana para dewa mengenai kita berdua pada suatu ketika.

About:

people will always talk, so i give them something to talk about!

Following: