Sampai Jumpa, Malamku.
mungkin kamu mau tau, ini sudah hampir kali kelima aku membaca tulisanmu yang terakhir kali kamu kirimkan itu. dan aku masih saja tidak tau harus membalas apa.
hallo, malamku.
matahari sudah mulai keliatan di tempatku sekarang. burung-burung dengan teratur beterbangan kembali ke tempatnya yang biasa, setelah hampir sepanjang malam diam dan hanya bercengkerama dengan kekasihnya sejak dari selepas senja, mereka berkicau dengan sangat indah. ah, kemarin aku lupa bilang kepadamu bahwa aku juga mencintai subuh. waktu yang paling tepat untuk mengingat dan melepaskan segala sesuatu, segar dan aromanya seperti mengingatkanku akan kamu.
kamu pernah dengar tentang sehabis gelap terbitlah terang, bukan? jika boleh ku artikan, malam dan subuh memang pasangan yang paling serasi. imajiku selalu berkhayal tentang keduanya. bagiku, subuh adalah bentuk kumpulan tertinggi kepuasaan dari orgasmeku akan nikmatnya malam. atau mungkin subuh adalah permulaan? entahlah. namun jika saja malam bisa kuanalogikan sebagai kesepianku yang tangguh, maka subuh menelan harga diri malamku yang teramat angkuh. dibabat habis, tak bersisa.
dan subuh ini, sepertinya bukan hanya itu saja. subuhku teramat lapar, bahkan cerita tentang kita pun ingin dilahapnya hingga tak berbekas. ah, sebentar. aku sedikit ragu, sebenarnya benakku bertanya selalu. apakah memang pernah ada kata kita dalam ini cerita?
hallo, malamku.
aku merasa dihormati betul ketika kau bilang merasakan juga komplikasi hebat yang sedang aku alami ini. sepertinya aku tak salah mendapatkanmu sebagai orang yang kuajak bertukar rasa, aku sangat ingin merangkul pundakmu, memeluk hangatnya badanmu dan berucap terima kasih yang banyak sekali sekarang ini, kau tau. ketika aku bilang kamu sangat menyenangkan dan lucu, aku tidak mengatakannya hanya untuk membuatmu senang semata. kamu benar-benar menyenangkan juga lucu, gelitik mesra di perut dan telapak kakiku begitu terasanya nyata setiap kamu mulai berceloteh dengan sederhana. bahkan ketika pada akhirnya kamu meminta maaf untuk pergi dengan rupa yang pantas, aku masih menganggap caramu berpamitan itu teramat menyenangkan dan lucu adanya.
entahlah, malamku..
mungkin kita cuma sedang sekedar khilaf, kamu tidak perlu meminta maaf. sepertinya akan sangat menyenangkan jika suatu saat nanti kamu mau kenalkan aku kepada pahlawan pelangimu yang lain, yang aku yakin akan kau temukan pada suatu hari di dalam perjalananmu mencari jembatan penyebranganmenuju khayangan nanti.
sampai di sini, malamku.
berkali lagi aku ucapkan terima kasih dan maaf yang banyak sekali, dengan tak sadar hampir saja aku mengacaukan banyak hal yang sudah lebih dulu ada.
hmm..
pagiku sudah terang sekarang, sayang.
mungkin sudah saatnya aku melepaskan malamku dengan ikhlas, beristirahat sejenak dalam subuh, dan dengan hati berani menantang matahari yang tak pernah kapok menggodaku hari ini.
seperti biasa, sepertinya aku terlalu banyak berkata-kata lagi. maklumkan sajalah, besok-besok sudah tak ada cerita manis begini lagi di antara kita, bukan? hehehe.
sampai jumpa, malamku.
semoga akan ada lain kesempatan.