/page/2

KepadaMu, Tuhan yang senang melihatku dalam sedih sendu.

Aku bersimpuh, dengan segala dosa dan kerendah-hatianku. Memohon kepadamu dengan tidak tau diri juga malu, agar menghantarkan pulang semua cinta yang masih ada dari hati dan ini tubuh, segala rasa yang tersisa dan entah kenapa terus menggebu.
Lindungi dan berkati dia, aku mohon kepadaMu. Berikan semua kebaikan yang patut dia cumbu selayaknya dengan haru.
Karena sujudku malam ini, Tuhanku, adalah untuknya yang sudah aku ikhlaskan untuk pergi dan menjauh.

Sesungguhnya Engkau Maha Tau atas apa yang terjadi padaku, selalu.

Betapa hidup itu sangatlah menyenangkan bagi mereka yang bisa dengan segera mengikhlaskan.
– Yuristika Tirta
Sementara aku masih sibuk merelakan kepergian, tidak ada sedikitpun kau merasakan kehilangan.
– Yuristika Tirta

Kutilang yang menantang elang.

“Hari sudah petang!” seru para ilalang kepada kutilang

Kembalilah ke kandang, sebelum kau dimangsa elang

Dan sebelum dia merobek sayapmu yang sepasang

Lalu dia meremukkanmu habis-habisan, wahai burung yang malang

“Ah, tenang saja ilalang yang budiman!” jawab kutilang dengan sangat tenang

Elang mungkin saja melahapku dengan garang

Diluluh-lantahkannya badanku yang tiada bisa melakukan apapun selain terlentang

Dan keluargaku akan menangis dengan sangat lantang

“Iya, kau benar, Ilalang. Elang mungkin saja menang

Tapi nyanyian merduku tidak akan pernah hilang.” 

Mereka bilang aku adalah kesedihan.

Sebab itu berkacalah kepadaku, maka kau akan menghindari kesalahan.

Payung teduh.

Cintamu serupa payung teduh, menaungi setiap peluh dan kesahku. Ketika aku lelah berjalan. Dan tiada lagi yang bisa aku harapkan. Kembali kepadamu adalah satu-satu hal yang bisa aku tuju. 

Aku bosan bermain dengan bayangan. Tentang masa depan, tentang kesepian. Satu-satunya hal yang bisa buatku tenang, adalah dipelukmu aku rebahkan. Tangisku ditelannya, tawaku digemakannya. Betapa ajaibnya kamu, bukan?

Maka jangan pergi dan tinggalkan. Cintamu adalah payung teduhku, kepada siapa lagi bisa aku ceritakan tentang kehilangan?

Ingatkan aku besok pagi untuk berhenti berharap padamu lagi.
– Yuristika Tirta
Ah, aku memang penjilat kesepian.
– Yuristika Tirta

Menikmati hidup.

“Kamu nggak pernah bisa menikmati hidup!” Kata-kata itulah yang hampir selalu dia teriakkan kepadaku ketika kami bertengkar dengan hebatnya. Dan akupun akan tertegun sesaat setelah mendengar kalimat tersebut dengan begitu lancarnya keluar bagai semburan air kran dari mulutnya.

Menikmati hidup. Mungkin, bagiku dan baginya, definisi menikmati hidup itu sama sekali berbeda. Tentu saja, menurutku sendiri, aku selalu menikmati hidup. Aku tak berkeberatan untuk makan apa saja, aku bisa bersikap bodo amat sama kerjaan dan kuliah lalu pergi berlibur kemana saja, aku bebas berkata apa saja, jika mau aku akan berteman dengan siapa saja, aku diperkenankan untuk mencoba apa saja, ya sesukaku saja. Entah ada berapa banyak komentar dari orang lain tentang betapa menyenangkan hidupku. Aku punya orangtua yang sempurna, adek-adek yang bandel dan nyebelin luarbiasa, tante-tante yang menyayangiku tanpa terkecuali, teman-teman yang menyenangkan, dan seorang pacar yang hebat nan nrimo. Dan aku menikmatinya, sungguh.

Bagaimana mungkin dia seenak-enaknya berkata bahwa aku tidak bisa menikmati hidup? Tidakkah dia melihat betapa menyenangkan hidupku ini? Berbulan-bulan lalu, aku akan menjadi sangat marah dan ngambek berhari-hari jika mendengar kalimat ini pada setiap pertengkaran kami. Belum lagi jika dia menambahkan, “Jangan banyak tingkah!” Wah, kami bisa ribut besar sekali. Betapa mudah aku tersinggung oleh kalimat-kalimatnya yang jika difikir-fikir lagi, wah benar juga yah

Hidupku memang menyenangkan. Namun jika ditelaah lagi, seberapa sering aku bersyukur tentang itu? Seringnya malah aku mengeluh. Kurang inilah, kurang itulah, mau kesinilah, mau kesitulah. Jika boleh jujur, aku sendiri tidak kekurangan, cenderung berlebihan. Orangtuaku memanjakanku, semua yang aku inginkan sebisa mungkin dipenuhi oleh mereka. Bahkan di usia sedewasa ini, mereka tidak menuntutku untuk bekerja, aku disekolahkan lagi malah. Ongkang-ongkang kaki, menerima duit setiap hari, difasilitasi kendaraan, tempat tinggal yang bagus dan strategis di tengah kota Bandung pula. Sudah begitu terberkati, masih saja aku merasa tidak tercukupi. Pengen beli inilah, pengen beli itulah. Menuntut yang tidak-tidak, menangis lalu marah ketika belum dipenuhi. Belum lagi bertingkah, sampai pernah kabur dari rumah karena merasa tidak didengar dan segala bullshit yang hanya ada di otakku lainnya.

Belum lagi soal pacar. Terkadang aku memang kurang bersyukur. Aku punya seorang pacar yang istimewa. Keluarga kami saling menerima, harusnya berjalan mulus dan senang-senang saja. Dia menerimaku apa adanya. Memang sih, kami menjalani hubungan jarak jauh dan hanya bertemu dua minggu sekali. Tapi coba deh fikirin, pasangan LDR antar-kota mana yang bertemu dua minggu sekali selain Jakarta-Bandung coba? Dan masih saja aku mengeluh, tidak bersyukur dan marah-marah jika sedang merindu. Sok-sokan ngambek dan mengancam ingin memutuskan hubungan, padahal kalau diiyain ya mewek juga. :))

Ya, namanya juga manusia. Tak pernah puas dengan apa yang sudah berada ditangannya. Dan mungkin inilah definisi menikmati hidup yang sebenarnya, menurut dia. Menikmati apa saja yang sedang terjadi, menerima susah senang dan menjalaninya dengan santai. Dan sekali lagi, jika difikir-fikir lagi, mungkin memang benar bahwa aku tidak bisa menikmati hidup. Hidupku yang menyenangkan, yang mungkin ada lebih dari puluhan orang ingin bertukar tempat denganku jika ada kesempatan.

rindu ini begitu pelik, hatiku rasanya tercekik.

rindu ini begitu pelik, hatiku rasanya tercekik.

beberapa kali bayangmu mengusik walau sekuat tenaga sudah kusuruh putar balik.

akalku berbisik, mungkin memang cuma kamu yang terbaik.

oh, Sang Khalik. betapa aku munafik!

rindu ini begitu pelik, hatiku rasanya tercekik.

demi Dia yang maha membolak-balikkan rasa, padamu aku telah menjatuhkan cinta.
– Yuristika Tirta.

aku benci perempuan itu.

entah apa yang ada di fikiranku, tapi aku benci perempuan itu. untuk dia yang pernah mengisi malam gelap dan membikin suasana hatiku bagai mainan anak, aku benci perempuan itu. perempuan yang selalu ada dan menemani dia tertawa. perempuan yang aku benci, tapi selalu dicintai. perempuan yang mempesona, yang bisa bikin diri lupa. perempuan yang sudah lama menjadi dunianya. perempuan yang sialnya disukai juga oleh Si Maha Ada sehingga memberi dia segalanya. dan sekali lagi demi Si Maha Ada yang memberi dia segalanya, aku benci perempuan itu!

kebencian ini susah musnah. perempuan ini tidak pernah mengusikku, tidak juga mengganggu hidupku. dia hanya perempuan tidak biasa yang tidak bisa gelisah. perempuan tidak biasa yang jarang salah. perempuan tidak biasa yang tiba-tiba masuk, dan entah kenapa jadi menghantui kehidupanku. perempuan itu suka sekali tertawa. dia selalu tertawa. hidup ini baginya tidak susah, cukup tertawa. lalu kau akan melihat barisan gigi putihnya yang indah, juga senyum yang sangat menawan di wajahnya. aku memanggil dia sempurna. sudah kukatakan kepadamu bahwa dia punya segalanya. serta lelaki juga banyak yang tergila. bagi dia semuanya serba tersedia, sementara aku harus bersusah payah sebelum melakukan apa-apa. dia memang tidak mengganggu, hanya seperti hantu. sejak aku mengenalnya, seakan semua terhubung dengannya. dan entahlah, aku benci perempuan itu. aku benci semua sempurnanya.

dia menarik. perempuan itu seperti bersayap tidak sepertimu. dia datang dari bongkahan langit yang berwarna perak dalam jubah emas berselubung terang dengan dua sayap di punggung. semuanya serba indah, segala sangat indah. setahuku makhluk begitu bernama malaikat. tapi tentu saja dia bukan malaikat. malaikat itu suci dan selalu penuh kasih kepada sesama. malaikat tidak pernah akan menertawakanku untuk hal-hal yang suci seperti cinta. ya, dia menertawakanku. menertawakan kebodohan yang kulakukan untuk beberapa hal yang semestinya tidak diketahui olehnya. menertawakan beberapa pengorbanan yang aku lakukan untuk seorang pria luar-biasa yang masih saja sangat tergila-gila kepadanya, kepada perempuan yang sangat aku benci itu. dan aku kecewa. aku tidak bisa tertawa. kepada dia, kepada mereka, kepada cerita.

aku memang seharusnya membenci perempuan itu!

perempuan yang aku benci itu bersama dia sudah sejak lama. bahkan sebelum aku mengenalnya, perempuan itu sudah terlebih ada. aku seringkali bertanya, pantaskah membenci masa lalu seorang yang tidak mungkin binasa? kata mereka membenci itu salah. tapi aku sudah muak, kekesalan yang menumpuk sejak dulu jadi batu. apa mau dikata, aku ini manusia biasa yang punya segala rasa. rasanya tidak tahan lagi. aku benci perempuan itu. atas semua yang dia punya, walaupun dia tidak berarti. sebenarnya sekarang juga keberadaan dia tidak banyak bermakna. tapi aku tetap benci dia.

July 6th 2009.

Sampai Jumpa, Malamku.

mungkin kamu mau tau, ini sudah hampir kali kelima aku membaca tulisanmu yang terakhir kali kamu kirimkan itu. dan aku masih saja tidak tau harus membalas apa.

hallo, malamku.
matahari sudah mulai keliatan di tempatku sekarang. burung-burung dengan teratur beterbangan kembali ke tempatnya yang biasa, setelah hampir sepanjang malam diam dan hanya bercengkerama dengan kekasihnya sejak dari selepas senja, mereka berkicau dengan sangat indah. ah, kemarin aku lupa bilang kepadamu bahwa aku juga mencintai subuh. waktu yang paling tepat untuk mengingat dan melepaskan segala sesuatu, segar dan aromanya seperti mengingatkanku akan kamu.

kamu pernah dengar tentang sehabis gelap terbitlah terang, bukan? jika boleh ku artikan, malam dan subuh memang pasangan yang paling serasi. imajiku selalu berkhayal tentang keduanya. bagiku, subuh adalah bentuk kumpulan tertinggi kepuasaan dari orgasmeku akan nikmatnya malam. atau mungkin subuh adalah permulaan? entahlah. namun jika saja malam bisa kuanalogikan sebagai kesepianku yang tangguh, maka subuh menelan harga diri malamku yang teramat angkuh. dibabat habis, tak bersisa.

dan subuh ini, sepertinya bukan hanya itu saja. subuhku teramat lapar, bahkan cerita tentang kita pun ingin dilahapnya hingga tak berbekas. ah, sebentar. aku sedikit ragu, sebenarnya benakku bertanya selalu. apakah memang pernah ada kata kita dalam ini cerita?

hallo, malamku.
aku merasa dihormati betul ketika kau bilang merasakan juga komplikasi hebat yang sedang aku alami ini. sepertinya aku tak salah mendapatkanmu sebagai orang yang kuajak bertukar rasa, aku sangat ingin merangkul pundakmu, memeluk hangatnya badanmu dan berucap terima kasih yang banyak sekali sekarang ini, kau tau. ketika aku bilang kamu sangat menyenangkan dan lucu, aku tidak mengatakannya hanya untuk membuatmu senang semata. kamu benar-benar menyenangkan juga lucu, gelitik mesra di perut dan telapak kakiku begitu terasanya nyata setiap kamu mulai berceloteh dengan sederhana. bahkan ketika pada akhirnya kamu meminta maaf untuk pergi dengan rupa yang pantas, aku masih menganggap caramu berpamitan itu teramat menyenangkan dan lucu adanya.

entahlah, malamku..
mungkin kita cuma sedang sekedar khilaf, kamu tidak perlu meminta maaf. sepertinya akan sangat menyenangkan jika suatu saat nanti kamu mau kenalkan aku kepada pahlawan pelangimu yang lain, yang aku yakin akan kau temukan pada suatu hari di dalam perjalananmu mencari jembatan penyebranganmenuju khayangan nanti.

sampai di sini, malamku.
berkali lagi aku ucapkan terima kasih dan maaf yang banyak sekali, dengan tak sadar hampir saja aku mengacaukan banyak hal yang sudah lebih dulu ada.

hmm..
pagiku sudah terang sekarang, sayang.
mungkin sudah saatnya aku melepaskan malamku dengan ikhlas, beristirahat sejenak dalam subuh, dan dengan hati berani menantang matahari yang tak pernah kapok menggodaku hari ini.

seperti biasa, sepertinya aku terlalu banyak berkata-kata lagi. maklumkan sajalah, besok-besok sudah tak ada cerita manis begini lagi di antara kita, bukan? hehehe.

sampai jumpa, malamku.
semoga akan ada lain kesempatan.

Hati Nurani Hakim Dalam Memutus Suatu Perkara Pidana.

“Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang, kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya ada dua alat bukti yang sah, yang daripadanya dia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana telah terjadi dan bahwa Terdakwalah yang bersalah melakukannya.”
-Pasal 183 KUHAP.

—-
Pasal inilah yang sering dijadikan pedoman bagi para Hakim di Indonesia dalam mengambil keputusan mengenai bersalah tidaknya seseorang yang terjerat dengan kasus pidana. Berdasarkan pasal ini, sudah jelas sekali dikatakan bahwa untuk memutuskan bersalah atau tidaknya seseorang ada dua faktor penentu, yakni: harus ada SEKURANG-KURANGNYA DUA ALAT BUKTI YANG SAH, serta adanya KEYAKINAN HAKIM.

Mengenai alat bukti yang sah, telah diatur dengan jelas dalam Pasal 183 ayat (1) KUHAP bahwa yang termasuk di dalamnya adalah:
1. Keterangan Saksi;
2. Keterangan Ahli;
3. Surat;
4. Petunjuk;
5. Keterangan Terdakwa.

Selain daripada itu, karena sistem pembuktian Hukum Acara Pidana Indonesia menganut stelsel Negatief Wettelijk, maka tidak dapat dipergunakan dalam pembuktian di dalam persidangan. Yang lainnya ini yang kemudian disebut dengan barang bukti, yakni barang atau benda atau sesuatu yang dipergunakan dalam atau berkaitan atau terlibat atau ada hubungannya dengan kasus yang sedang diperiksa di persidangan.

Selanjutnya, yang kedua, disebut dengan Keyakinan Hakim. Kalau sebelumnya mempergunakan kepastian dalam pembuktian, dengan adanya alat bukti yang jelas yang dipergunakan, maka mengenai Keyakinan Hakim ini tentu murni berdasarkan hati nurani dari Hakim itu sendiri. Keyakinan Hakim ini tidak boleh diperoleh dari macam-macam keadaan yang diketahuinya DI LUAR PERSIDANGAN, tetapi haruslah dari pemeriksaan terhadap alat bukti yang terjadi DI DALAM PERSIDANGAN.

Jadi misalnya nih, kasus N merupakan kasus penting yang melibatkan banyak pejabat negara, sehingga media berlomba-lomba memberitakan hal-hal yang bahkan mungkin sudah mengandung fitnah. Seorang Hakim boleh saja menonton berita-berita tentang kasus yang sedang digembor-gemborkan tersebut, tetapi TIDAK BOLEH MENJADIKAN keterangan tersebut sebagai dasar dari keyakinannya untuk memutus perkara. Dia tetap harus menggunakan keyakinan yang diperolehnya dari pemeriksaan di persidangan. Bahasa gampangnya, mau di luar persidangan dengan bukti yang dibeberkan sana sini oleh berbagai fihak bahwa si N ini terbukti bersalah kek, tapi kalo dalam pemeriksaan pembuktian di persidangan si Jaksa Penuntut Umumnya tidak mampu memberikan keyakinan kepada Hakim bahwa N ini bersalah, maka Hakim haruslah mempergunakan keyakinan itu untuk memutus perkaranya.

Apabila dari pemeriksaan alat-alat bukti tersebut si Hakim masih tidak memperoleh keyakinan, maka ia berwenang untuk menjatuhkan putusan bebas dari segala tuntutan.

Jadi, walopun ada dua atau lima atau bahkan tiga puluh orang saksi dan belasan alat bukti lainnya sekalipun, tetapi dengan hati nuraninya Hakim tidak yakin bahwa kesaksian tersebut dapat dipercaya untuk mencari kebenaran materiil, maka Hakim tersebut mempunyai kewenangan untuk membebaskan Terdakwa.

Sebaliknya, jika kesaksian dan alat bukti telah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Terdakwa bersalah, dan apabila hati nurani Hakim juga berkata bahwa Terdakwa bersalah, walopun mungkin akan bertentangan dengan keinginan masyarakat banyak, Hakim tetap harus memutuskan dengan legowo bahwa Terdakwa bersalah.

Intinya sih, jadi Hakim itu harus logis dan objektif dalam segala hal demi mencari kebenaran materiil suatu kasus pidana. Susah loh, untuk tidak terpancing dengan segala berita dan intervensi yang bertebaran disana-sini. Jadi, sekarang udah mulai ngerti kan, bahwa seenaknya nge-judge seorang Hakim dalam pengambilan keputusannya itu nggak pernah baik? :p

Syahdan, suatu malam di kerajaan cerita punya kita..

  • L: Kamu mau aku ingetin caranya bobok nggak?
  • P: Mau. Gimana?
  • L: kamu inget-ingetin dulu badanku sebesar apa. Inget terus sampe kamu bener-bener inget. Udah?
  • P: Hhmm..
  • L: Nah.. Kalo udah, bayangin deh kamu lagi tiduran. Trus pelan-pelan aku deketin kamu.. Aku pelukin kamu dari belakang.. Sambil aku bisikin ke telinga kamu cerita seharian aku ngapain aja..

KepadaMu, Tuhan yang senang melihatku dalam sedih sendu.

Aku bersimpuh, dengan segala dosa dan kerendah-hatianku. Memohon kepadamu dengan tidak tau diri juga malu, agar menghantarkan pulang semua cinta yang masih ada dari hati dan ini tubuh, segala rasa yang tersisa dan entah kenapa terus menggebu.
Lindungi dan berkati dia, aku mohon kepadaMu. Berikan semua kebaikan yang patut dia cumbu selayaknya dengan haru.
Karena sujudku malam ini, Tuhanku, adalah untuknya yang sudah aku ikhlaskan untuk pergi dan menjauh.

Sesungguhnya Engkau Maha Tau atas apa yang terjadi padaku, selalu.

Betapa hidup itu sangatlah menyenangkan bagi mereka yang bisa dengan segera mengikhlaskan.
– Yuristika Tirta
Sementara aku masih sibuk merelakan kepergian, tidak ada sedikitpun kau merasakan kehilangan.
– Yuristika Tirta

Kutilang yang menantang elang.

“Hari sudah petang!” seru para ilalang kepada kutilang

Kembalilah ke kandang, sebelum kau dimangsa elang

Dan sebelum dia merobek sayapmu yang sepasang

Lalu dia meremukkanmu habis-habisan, wahai burung yang malang

“Ah, tenang saja ilalang yang budiman!” jawab kutilang dengan sangat tenang

Elang mungkin saja melahapku dengan garang

Diluluh-lantahkannya badanku yang tiada bisa melakukan apapun selain terlentang

Dan keluargaku akan menangis dengan sangat lantang

“Iya, kau benar, Ilalang. Elang mungkin saja menang

Tapi nyanyian merduku tidak akan pernah hilang.” 

Mereka bilang aku adalah kesedihan.

Sebab itu berkacalah kepadaku, maka kau akan menghindari kesalahan.

Payung teduh.

Cintamu serupa payung teduh, menaungi setiap peluh dan kesahku. Ketika aku lelah berjalan. Dan tiada lagi yang bisa aku harapkan. Kembali kepadamu adalah satu-satu hal yang bisa aku tuju. 

Aku bosan bermain dengan bayangan. Tentang masa depan, tentang kesepian. Satu-satunya hal yang bisa buatku tenang, adalah dipelukmu aku rebahkan. Tangisku ditelannya, tawaku digemakannya. Betapa ajaibnya kamu, bukan?

Maka jangan pergi dan tinggalkan. Cintamu adalah payung teduhku, kepada siapa lagi bisa aku ceritakan tentang kehilangan?

Ingatkan aku besok pagi untuk berhenti berharap padamu lagi.
– Yuristika Tirta
Ah, aku memang penjilat kesepian.
– Yuristika Tirta

Menikmati hidup.

“Kamu nggak pernah bisa menikmati hidup!” Kata-kata itulah yang hampir selalu dia teriakkan kepadaku ketika kami bertengkar dengan hebatnya. Dan akupun akan tertegun sesaat setelah mendengar kalimat tersebut dengan begitu lancarnya keluar bagai semburan air kran dari mulutnya.

Menikmati hidup. Mungkin, bagiku dan baginya, definisi menikmati hidup itu sama sekali berbeda. Tentu saja, menurutku sendiri, aku selalu menikmati hidup. Aku tak berkeberatan untuk makan apa saja, aku bisa bersikap bodo amat sama kerjaan dan kuliah lalu pergi berlibur kemana saja, aku bebas berkata apa saja, jika mau aku akan berteman dengan siapa saja, aku diperkenankan untuk mencoba apa saja, ya sesukaku saja. Entah ada berapa banyak komentar dari orang lain tentang betapa menyenangkan hidupku. Aku punya orangtua yang sempurna, adek-adek yang bandel dan nyebelin luarbiasa, tante-tante yang menyayangiku tanpa terkecuali, teman-teman yang menyenangkan, dan seorang pacar yang hebat nan nrimo. Dan aku menikmatinya, sungguh.

Bagaimana mungkin dia seenak-enaknya berkata bahwa aku tidak bisa menikmati hidup? Tidakkah dia melihat betapa menyenangkan hidupku ini? Berbulan-bulan lalu, aku akan menjadi sangat marah dan ngambek berhari-hari jika mendengar kalimat ini pada setiap pertengkaran kami. Belum lagi jika dia menambahkan, “Jangan banyak tingkah!” Wah, kami bisa ribut besar sekali. Betapa mudah aku tersinggung oleh kalimat-kalimatnya yang jika difikir-fikir lagi, wah benar juga yah

Hidupku memang menyenangkan. Namun jika ditelaah lagi, seberapa sering aku bersyukur tentang itu? Seringnya malah aku mengeluh. Kurang inilah, kurang itulah, mau kesinilah, mau kesitulah. Jika boleh jujur, aku sendiri tidak kekurangan, cenderung berlebihan. Orangtuaku memanjakanku, semua yang aku inginkan sebisa mungkin dipenuhi oleh mereka. Bahkan di usia sedewasa ini, mereka tidak menuntutku untuk bekerja, aku disekolahkan lagi malah. Ongkang-ongkang kaki, menerima duit setiap hari, difasilitasi kendaraan, tempat tinggal yang bagus dan strategis di tengah kota Bandung pula. Sudah begitu terberkati, masih saja aku merasa tidak tercukupi. Pengen beli inilah, pengen beli itulah. Menuntut yang tidak-tidak, menangis lalu marah ketika belum dipenuhi. Belum lagi bertingkah, sampai pernah kabur dari rumah karena merasa tidak didengar dan segala bullshit yang hanya ada di otakku lainnya.

Belum lagi soal pacar. Terkadang aku memang kurang bersyukur. Aku punya seorang pacar yang istimewa. Keluarga kami saling menerima, harusnya berjalan mulus dan senang-senang saja. Dia menerimaku apa adanya. Memang sih, kami menjalani hubungan jarak jauh dan hanya bertemu dua minggu sekali. Tapi coba deh fikirin, pasangan LDR antar-kota mana yang bertemu dua minggu sekali selain Jakarta-Bandung coba? Dan masih saja aku mengeluh, tidak bersyukur dan marah-marah jika sedang merindu. Sok-sokan ngambek dan mengancam ingin memutuskan hubungan, padahal kalau diiyain ya mewek juga. :))

Ya, namanya juga manusia. Tak pernah puas dengan apa yang sudah berada ditangannya. Dan mungkin inilah definisi menikmati hidup yang sebenarnya, menurut dia. Menikmati apa saja yang sedang terjadi, menerima susah senang dan menjalaninya dengan santai. Dan sekali lagi, jika difikir-fikir lagi, mungkin memang benar bahwa aku tidak bisa menikmati hidup. Hidupku yang menyenangkan, yang mungkin ada lebih dari puluhan orang ingin bertukar tempat denganku jika ada kesempatan.

rindu ini begitu pelik, hatiku rasanya tercekik.

rindu ini begitu pelik, hatiku rasanya tercekik.

beberapa kali bayangmu mengusik walau sekuat tenaga sudah kusuruh putar balik.

akalku berbisik, mungkin memang cuma kamu yang terbaik.

oh, Sang Khalik. betapa aku munafik!

rindu ini begitu pelik, hatiku rasanya tercekik.

demi Dia yang maha membolak-balikkan rasa, padamu aku telah menjatuhkan cinta.
– Yuristika Tirta.

aku benci perempuan itu.

entah apa yang ada di fikiranku, tapi aku benci perempuan itu. untuk dia yang pernah mengisi malam gelap dan membikin suasana hatiku bagai mainan anak, aku benci perempuan itu. perempuan yang selalu ada dan menemani dia tertawa. perempuan yang aku benci, tapi selalu dicintai. perempuan yang mempesona, yang bisa bikin diri lupa. perempuan yang sudah lama menjadi dunianya. perempuan yang sialnya disukai juga oleh Si Maha Ada sehingga memberi dia segalanya. dan sekali lagi demi Si Maha Ada yang memberi dia segalanya, aku benci perempuan itu!

kebencian ini susah musnah. perempuan ini tidak pernah mengusikku, tidak juga mengganggu hidupku. dia hanya perempuan tidak biasa yang tidak bisa gelisah. perempuan tidak biasa yang jarang salah. perempuan tidak biasa yang tiba-tiba masuk, dan entah kenapa jadi menghantui kehidupanku. perempuan itu suka sekali tertawa. dia selalu tertawa. hidup ini baginya tidak susah, cukup tertawa. lalu kau akan melihat barisan gigi putihnya yang indah, juga senyum yang sangat menawan di wajahnya. aku memanggil dia sempurna. sudah kukatakan kepadamu bahwa dia punya segalanya. serta lelaki juga banyak yang tergila. bagi dia semuanya serba tersedia, sementara aku harus bersusah payah sebelum melakukan apa-apa. dia memang tidak mengganggu, hanya seperti hantu. sejak aku mengenalnya, seakan semua terhubung dengannya. dan entahlah, aku benci perempuan itu. aku benci semua sempurnanya.

dia menarik. perempuan itu seperti bersayap tidak sepertimu. dia datang dari bongkahan langit yang berwarna perak dalam jubah emas berselubung terang dengan dua sayap di punggung. semuanya serba indah, segala sangat indah. setahuku makhluk begitu bernama malaikat. tapi tentu saja dia bukan malaikat. malaikat itu suci dan selalu penuh kasih kepada sesama. malaikat tidak pernah akan menertawakanku untuk hal-hal yang suci seperti cinta. ya, dia menertawakanku. menertawakan kebodohan yang kulakukan untuk beberapa hal yang semestinya tidak diketahui olehnya. menertawakan beberapa pengorbanan yang aku lakukan untuk seorang pria luar-biasa yang masih saja sangat tergila-gila kepadanya, kepada perempuan yang sangat aku benci itu. dan aku kecewa. aku tidak bisa tertawa. kepada dia, kepada mereka, kepada cerita.

aku memang seharusnya membenci perempuan itu!

perempuan yang aku benci itu bersama dia sudah sejak lama. bahkan sebelum aku mengenalnya, perempuan itu sudah terlebih ada. aku seringkali bertanya, pantaskah membenci masa lalu seorang yang tidak mungkin binasa? kata mereka membenci itu salah. tapi aku sudah muak, kekesalan yang menumpuk sejak dulu jadi batu. apa mau dikata, aku ini manusia biasa yang punya segala rasa. rasanya tidak tahan lagi. aku benci perempuan itu. atas semua yang dia punya, walaupun dia tidak berarti. sebenarnya sekarang juga keberadaan dia tidak banyak bermakna. tapi aku tetap benci dia.

July 6th 2009.

Sampai Jumpa, Malamku.

mungkin kamu mau tau, ini sudah hampir kali kelima aku membaca tulisanmu yang terakhir kali kamu kirimkan itu. dan aku masih saja tidak tau harus membalas apa.

hallo, malamku.
matahari sudah mulai keliatan di tempatku sekarang. burung-burung dengan teratur beterbangan kembali ke tempatnya yang biasa, setelah hampir sepanjang malam diam dan hanya bercengkerama dengan kekasihnya sejak dari selepas senja, mereka berkicau dengan sangat indah. ah, kemarin aku lupa bilang kepadamu bahwa aku juga mencintai subuh. waktu yang paling tepat untuk mengingat dan melepaskan segala sesuatu, segar dan aromanya seperti mengingatkanku akan kamu.

kamu pernah dengar tentang sehabis gelap terbitlah terang, bukan? jika boleh ku artikan, malam dan subuh memang pasangan yang paling serasi. imajiku selalu berkhayal tentang keduanya. bagiku, subuh adalah bentuk kumpulan tertinggi kepuasaan dari orgasmeku akan nikmatnya malam. atau mungkin subuh adalah permulaan? entahlah. namun jika saja malam bisa kuanalogikan sebagai kesepianku yang tangguh, maka subuh menelan harga diri malamku yang teramat angkuh. dibabat habis, tak bersisa.

dan subuh ini, sepertinya bukan hanya itu saja. subuhku teramat lapar, bahkan cerita tentang kita pun ingin dilahapnya hingga tak berbekas. ah, sebentar. aku sedikit ragu, sebenarnya benakku bertanya selalu. apakah memang pernah ada kata kita dalam ini cerita?

hallo, malamku.
aku merasa dihormati betul ketika kau bilang merasakan juga komplikasi hebat yang sedang aku alami ini. sepertinya aku tak salah mendapatkanmu sebagai orang yang kuajak bertukar rasa, aku sangat ingin merangkul pundakmu, memeluk hangatnya badanmu dan berucap terima kasih yang banyak sekali sekarang ini, kau tau. ketika aku bilang kamu sangat menyenangkan dan lucu, aku tidak mengatakannya hanya untuk membuatmu senang semata. kamu benar-benar menyenangkan juga lucu, gelitik mesra di perut dan telapak kakiku begitu terasanya nyata setiap kamu mulai berceloteh dengan sederhana. bahkan ketika pada akhirnya kamu meminta maaf untuk pergi dengan rupa yang pantas, aku masih menganggap caramu berpamitan itu teramat menyenangkan dan lucu adanya.

entahlah, malamku..
mungkin kita cuma sedang sekedar khilaf, kamu tidak perlu meminta maaf. sepertinya akan sangat menyenangkan jika suatu saat nanti kamu mau kenalkan aku kepada pahlawan pelangimu yang lain, yang aku yakin akan kau temukan pada suatu hari di dalam perjalananmu mencari jembatan penyebranganmenuju khayangan nanti.

sampai di sini, malamku.
berkali lagi aku ucapkan terima kasih dan maaf yang banyak sekali, dengan tak sadar hampir saja aku mengacaukan banyak hal yang sudah lebih dulu ada.

hmm..
pagiku sudah terang sekarang, sayang.
mungkin sudah saatnya aku melepaskan malamku dengan ikhlas, beristirahat sejenak dalam subuh, dan dengan hati berani menantang matahari yang tak pernah kapok menggodaku hari ini.

seperti biasa, sepertinya aku terlalu banyak berkata-kata lagi. maklumkan sajalah, besok-besok sudah tak ada cerita manis begini lagi di antara kita, bukan? hehehe.

sampai jumpa, malamku.
semoga akan ada lain kesempatan.

Hati Nurani Hakim Dalam Memutus Suatu Perkara Pidana.

“Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang, kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya ada dua alat bukti yang sah, yang daripadanya dia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana telah terjadi dan bahwa Terdakwalah yang bersalah melakukannya.”
-Pasal 183 KUHAP.

—-
Pasal inilah yang sering dijadikan pedoman bagi para Hakim di Indonesia dalam mengambil keputusan mengenai bersalah tidaknya seseorang yang terjerat dengan kasus pidana. Berdasarkan pasal ini, sudah jelas sekali dikatakan bahwa untuk memutuskan bersalah atau tidaknya seseorang ada dua faktor penentu, yakni: harus ada SEKURANG-KURANGNYA DUA ALAT BUKTI YANG SAH, serta adanya KEYAKINAN HAKIM.

Mengenai alat bukti yang sah, telah diatur dengan jelas dalam Pasal 183 ayat (1) KUHAP bahwa yang termasuk di dalamnya adalah:
1. Keterangan Saksi;
2. Keterangan Ahli;
3. Surat;
4. Petunjuk;
5. Keterangan Terdakwa.

Selain daripada itu, karena sistem pembuktian Hukum Acara Pidana Indonesia menganut stelsel Negatief Wettelijk, maka tidak dapat dipergunakan dalam pembuktian di dalam persidangan. Yang lainnya ini yang kemudian disebut dengan barang bukti, yakni barang atau benda atau sesuatu yang dipergunakan dalam atau berkaitan atau terlibat atau ada hubungannya dengan kasus yang sedang diperiksa di persidangan.

Selanjutnya, yang kedua, disebut dengan Keyakinan Hakim. Kalau sebelumnya mempergunakan kepastian dalam pembuktian, dengan adanya alat bukti yang jelas yang dipergunakan, maka mengenai Keyakinan Hakim ini tentu murni berdasarkan hati nurani dari Hakim itu sendiri. Keyakinan Hakim ini tidak boleh diperoleh dari macam-macam keadaan yang diketahuinya DI LUAR PERSIDANGAN, tetapi haruslah dari pemeriksaan terhadap alat bukti yang terjadi DI DALAM PERSIDANGAN.

Jadi misalnya nih, kasus N merupakan kasus penting yang melibatkan banyak pejabat negara, sehingga media berlomba-lomba memberitakan hal-hal yang bahkan mungkin sudah mengandung fitnah. Seorang Hakim boleh saja menonton berita-berita tentang kasus yang sedang digembor-gemborkan tersebut, tetapi TIDAK BOLEH MENJADIKAN keterangan tersebut sebagai dasar dari keyakinannya untuk memutus perkara. Dia tetap harus menggunakan keyakinan yang diperolehnya dari pemeriksaan di persidangan. Bahasa gampangnya, mau di luar persidangan dengan bukti yang dibeberkan sana sini oleh berbagai fihak bahwa si N ini terbukti bersalah kek, tapi kalo dalam pemeriksaan pembuktian di persidangan si Jaksa Penuntut Umumnya tidak mampu memberikan keyakinan kepada Hakim bahwa N ini bersalah, maka Hakim haruslah mempergunakan keyakinan itu untuk memutus perkaranya.

Apabila dari pemeriksaan alat-alat bukti tersebut si Hakim masih tidak memperoleh keyakinan, maka ia berwenang untuk menjatuhkan putusan bebas dari segala tuntutan.

Jadi, walopun ada dua atau lima atau bahkan tiga puluh orang saksi dan belasan alat bukti lainnya sekalipun, tetapi dengan hati nuraninya Hakim tidak yakin bahwa kesaksian tersebut dapat dipercaya untuk mencari kebenaran materiil, maka Hakim tersebut mempunyai kewenangan untuk membebaskan Terdakwa.

Sebaliknya, jika kesaksian dan alat bukti telah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Terdakwa bersalah, dan apabila hati nurani Hakim juga berkata bahwa Terdakwa bersalah, walopun mungkin akan bertentangan dengan keinginan masyarakat banyak, Hakim tetap harus memutuskan dengan legowo bahwa Terdakwa bersalah.

Intinya sih, jadi Hakim itu harus logis dan objektif dalam segala hal demi mencari kebenaran materiil suatu kasus pidana. Susah loh, untuk tidak terpancing dengan segala berita dan intervensi yang bertebaran disana-sini. Jadi, sekarang udah mulai ngerti kan, bahwa seenaknya nge-judge seorang Hakim dalam pengambilan keputusannya itu nggak pernah baik? :p

Syahdan, suatu malam di kerajaan cerita punya kita..

  • L: Kamu mau aku ingetin caranya bobok nggak?
  • P: Mau. Gimana?
  • L: kamu inget-ingetin dulu badanku sebesar apa. Inget terus sampe kamu bener-bener inget. Udah?
  • P: Hhmm..
  • L: Nah.. Kalo udah, bayangin deh kamu lagi tiduran. Trus pelan-pelan aku deketin kamu.. Aku pelukin kamu dari belakang.. Sambil aku bisikin ke telinga kamu cerita seharian aku ngapain aja..
KepadaMu, Tuhan yang senang melihatku dalam sedih sendu.
"Betapa hidup itu sangatlah menyenangkan bagi mereka yang bisa dengan segera mengikhlaskan."
"Sementara aku masih sibuk merelakan kepergian, tidak ada sedikitpun kau merasakan kehilangan."
Kutilang yang menantang elang.
Mereka bilang aku adalah kesedihan.
Payung teduh.
"Ingatkan aku besok pagi untuk berhenti berharap padamu lagi."
"Ah, aku memang penjilat kesepian."
Menikmati hidup.
rindu ini begitu pelik, hatiku rasanya tercekik.
"demi Dia yang maha membolak-balikkan rasa, padamu aku telah menjatuhkan cinta."
aku benci perempuan itu.
Sampai Jumpa, Malamku.
Hati Nurani Hakim Dalam Memutus Suatu Perkara Pidana.
Syahdan, suatu malam di kerajaan cerita punya kita..

About:

people will always talk, so i give them something to talk about!

Following: